Tampilkan postingan dengan label Sasban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sasban. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Ontologi Sastra Bandingan


ONTOLOGI
1.    Sastra Bandingan dan Bandingan Sastra
Sohaimi (dalam Endraswara,2011:103) memberikan pandangan yang cukup penting untuk diperhatikan. Ia menyatakan bahwa ‘sastra bandingan’ lebih berpijak pada penelitian antardisiplin dengan teori dan pendekatan yang jelas. Sedangkan ‘bandingan sastra’ cenderung bersifat binari, yaitu membandingkan dua karya sastra.
Ontologi merupakan asas penetapan ruang lingkup dan sasaran kajian, serta asas penafsiran akan hakekat sasaran kajian tersebut. (Rosidi,2007)
Sehingga secara ontologis, perlu disadari bahwa sastra bandingan merupakan aktivitas penelitian kualitatif yang merunut dua atau lebih karya sastra. Biarpun ada yang mencoba mengkuantifikasikan hasil bandingan, sebenarnya hal tersebut hanya akan melenyapkan makna. Oleh karena hakikat sastra bandingan bukan pada jumlah, melainkan kualitas karya seseorang dapat terpengaruh dari karya yang lain. Jika penelitian kualitatif berlandaskan pendekatan holistik, mendudukan objek penelitian dalam suatu konstruksi ganda, serta melihat objeknya dalam satu konteks natural bukan parsial, maka sastra bandingan diarahkan pada pemahaman kontekstual.
Sastra bandingan juga mengenal aspek aksiologi, artinya ada manfaat dari sastra bandingan bagi pengembangan sastra. Manfaat sastra bandingan tak dapat lepas dari pemahaman sebelumnya, yaitu teks dan konteks. Sastra bandingan pun akan menemukan nilai dibalik teks sastra secara objektif. Sastra bandingan akan menyajikan karya sastra berdasarkan nilai-nilai serta kualitas dari suatu karya.
Sastra bandingan, secara sederhana, memiliki fungsi yang amat mendasar dalam kehidupan sastra, yaitu :
1)      Meluruskan kerja kreatif, terutama untuk mendudukkan persoalan bagi pengarang yang sering ceroboh, dalam arti mengambil ide sana-sini tanpa permisi.
2)      Membantu ahli sastra dalam menyusun sejarah sastra.
3)      Menemukan kembali unsur-unsur orisinalitas suatu karya sastra.
4)      Menggugah kreativitas pengarang agar semakin berkualitas dalam menghasilkan karya.
Manfaat diatas menandai betapa penting sastra bandingan dilakukan. Sastra bandingan dan bandingan sastra selalu dilandasi bahwa karya sastra lahir dikarenakan ada pendorongnya; dan karya sastra lahir dari sebuah invensi dan konvensi yang menuju inovasi kreatif. Dari dua hal ini muncul karya sastra yang layak dibandingkan satu sama lain. Baik sastra bandingan maupun bandingan sastra sejatinya bertujuan untuk mengidentifikasi kebaruan atau sekedar tiruan belaka sebuah karya sastra dari himpunan teks-teks sebelumnya. (Endraswara, 2011: 104-106)

2.    Problematik dan Target
Ada beberapa hal yang sangat mungkin menjadi problem dalam sastra bandingan sebagai sebuah disiplin ilmu. Persoalan yang menyangkut konsep sastra bandingan, tampaknya juga menjadi problem serius. Pusat perhatian utama dalam banyak rumusan atau definisi sastra bandingan pada umumnya terletak pada penekanan perbandingan pada dua karya atau lebih, setidak-tidaknya dari dua negara yang berbeda. Timbul masalah jika kita membandingkan dua karya yang berasal dari dua budaya etnik berbeda, apakah termasuk ke dalam wilayah sastra bandingan?.
Zepetnek, menyatakan bahwa sastra bandingan adalah “studi sastra yang dilandasi sastra atau bahasa nasional suatu negara”. Selain itu, sastra bandingan juga merupakan sebuah ideologi bagi sastra yang termarginalkan agar mendapatkan tempat di masa mendatang. Dari pendapat ini, dapat dirumuskan bahwa sastra bandingan dapat mengambil karya sastra pada suatu wilayah negara dan atau sastra daerah. Studi dapat ditekankan pada aspek ideologi karya sastra, karena mungkin sekali terjadi persentuhan ideologi antara dua karya atau lebih. (Endraswara,2011:107)
Masalah kedua yang menyangkut studi sastra bandingan adalah apakah praktik sastra bandingan hanya sebatas membandingkan dua teks sastra atau lebih atau malah mencantelkan analisis atau interpretasi pada kebudayaan dan kehidupan masyarakat yang melahirkannya? Jika perbandingan itu hanya menyangkut persoalan dua atau lebih teks sastra yang berbeda, maka hasil perbandingan itu hanya akan sampai pada perbedaan dan persamaan tekstual. Dengan demikian apakah tujuan sastra bandingan hanya sampai pada pengungkapan perbedaan dan persamaan dua teks atau lebih?, oleh karena itu patutlah dipertimbangkan kembali tujuan sastra bandingan yang tidak hanya sampai pada perbandingan dua teks sastra yang berbeda, tetapi juga berusaha menelusuri persamaan dan perbedaannya itu sebagai bagian dari dua produk budaya yang dilahirkan dari dua kehidupan sosio-budaya yang berbeda.
Wellek dan Warren menyebutkan bahwa ada tiga pengertian mengenai sastra bandingan : pertama, penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya; kedua, penyelidikan mengenai hubungan antara dua atau lebih karya sastra yang menjadi bahan dan objek penyelidikannya, di antaranya soal reputasi dan penetrasi, pengaruh, dan kemasyhuran karya besar; dan ketiga, penelitian sastra dalam keseluruhan sastra dunia, sastra umum, dan sastra nasional.
Sedangkan, Remak mengungkapkan bahwa “Sastra bandingan adalah studi sastra yang melewati batas-batas suatu negara serta hubungan antara sastra dan bidang pengetahuan dan kepercayaan lain”, dengan kata lain sastra bandingan adalah perbandingan karya sastra yang satu dengan satu atau beberapa karya sastra lain, serta perbandingan karya sastra dengan ekspresi manusia dalam bidang lain. Lebih lanjut Remak menekankan, bahwa perbandingan antara karya sastra dan bidang di luar sastra hanya dapat diterima sebagai sastra bandingan, jika perbandingan keduanya dilakukan secara sistematis dan bidang di luar sastra itu dapat dipisahkan dan mempunyai pertalian logis. (Endraswara,2011:108)
Benedecto Crose berpendapat bahwa studi sastra bandingan adalah penelitian yang berupa eksplorasi perubahan, penggantian, pengembangan, dan perbedaan timbal balik di antara dua karya atau lebih. Sastra bandingan terkait erat dengan ihwal tema dan ide sastra. Dalam pandangan Josh, sastra bandingan juga dapat meliputi aspek-aspek pengaruh, sumber ilham (acuan), proses pengambilan ilham, dan tema dasar. Berkaitan dengan hal ini ada empat kelompok penelitian sastra bandingan jika dilihat dari aspek objek garapan. Pertama, kategori yang melihat hubungan karya yang satu dengan lainnya melalui cara menelusuri juga kemungkinan adanya pengaruh satu karya terhadap karya yang lain. Termasuk dalam interdisipliner dalam sastra bandingan adalah filsafat, sosiologi, agama, dan sebagainya. Kedua, kategori yang mengkaji tema karya sastra. Ketiga, penelitian terhadap gerakan atau kecendrungan yang menandai suatu peradaban, yang keempat, analisis bentuk karya sastra (genre). (Endraswara,2011:112)
Sehingga, jika dilihat dari problematik yang muncul dalam sastra bandingan serta definisi sastra bandingan menurut para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa target dari sastra bandingan adalah penelitian yang tidak hanya berusaha mengkaji persamaan dan perbedaan antar karya sastra secara tekstual, namun lebih jauh lagi yakni berusaha mengetahui latar belakang kehidupa sosial budaya yang mendasari lahirnya sebuah teks.

3.    Perspektif Totalitas Pemahaman Sastra
Memahami sastra yang imajinatif bisa melahirkan pemahaman relatif. Sastra umumnya dihadirkan secara ambigu yang memang sudah menjadi sifatnya. Sastra multitafsir, sehingga pemahaman yang utuh atau total menjadi begitu penting. Penelitian terhadap karya sastra dapat dilakuakn dari berbagai sudut pendekatan, masing-masing dengan model analisisnya, tidak lain merupakan sebuah totalitas terhadap pemahaman sastra. (Endraswara,2011:112)
Sebuah karya sastra yang hadir dihadapan pembaca merupakan sebuah totalitas yang padu dan koheren. Sastra dibangun dari sejumlah unsur intrinsik yang masing-masing saling berkaitan timbal-balik membentuk sebuah sistem yang terorganisir. Sebagai sebuah kesatuan sistem organisasi, karya sastra akan ‘hidup’ jika didukung oleh semua subsistemnya. Namun, unsur-unsur tersebut sesungguhnya tidak akan lepas dari karya sastra sebelumnya. Sastrawan bukan orang yang bebas segala nilai di kepalanya. Mereka kadang-kadang terinfeksi oleh unsur pembangun, bentuk-bentuk, dan model sebelumnya.
Tiap subsistem sastra hanya akan bermakna jika berada dalam kaitan dengan wujud keseluruhannya. Dengan kata lain, unsur-unsur karya sastra tidak berarti apa-apa dalam keadaan terisolasi atau terpisah dari totalitasnya. (Endraswara,2011:114)
Penelitian terhadap karya sastra lewat berbagai pendekatan tetap bermuara pada satu tujuan utama, yakni memahami secara lebih baik, lebih penuh, dan total terhadap karya yang bersangkutann. Kegiatan pemahaman yang demikianlah yang diharapkan mampu mengungkap makna terselubung pada sebuah karya dan mampu mengambil manfaat darinya.
Seorang seniman yang gemar membaca karya sastra estetis dan absurd, mungkin sekali akan menciptakan karya sastra semacam karya yang ia pernah baca. Karya sastra yang lahir berikutnya tidak berarti ‘kotor’, melainkan sebuah cetusan barisan ide yang mirip. Dari sini tugas ahli sastra bandingan akan menemukan totalitas pemahaman secara komprehensif. Sastra bandingan menjadi jembatan untuk meneropong jauh mana karya yang benar-benar kreatif dan mana karya yang sekedar jiplakan karya sebelumnya. Selain itu, mempelajari karya sastra dapat juga diartikan sebagai mempelajari budaya masyarakat yang bersangkutan dan atau barisan cipta sastra kreatif sebelumnya. (Endraswara,2011:115-116)
4. Universalisasi Sastra, Mungkinkah?
            Universalisasi Sastra terkadang bertolak belakang dengan ide sastra bandingan. Disatu pihak Universalisasi sastra menolak varian – varian sastra dari berbagai Negara, di lain pihak sastra bandingan justru sebaliknya. Universalisasi sastra sering memanfaatkan logika generalisasi. Penelitian “ membanding “ yang berlandaskan hanya pada hal – hal yang menonjol dari sebuah karya, seperti yang sering dilakukan atas dua buah karya ( berlailan Negara ) atau lebih yang mencari persamaan dan perbedaan, sepatutnya mencari keselaran pada karya – karya yang di kaji. Untuk mengetahui pengarang dan hal-hal yang menonjol  memang mudah, tapi menyusuri sejarah sastra nasional secara keseluruhan mungkin sudah tercapai
            Pandangan kaum strukturalis terkadang terlalu eksklusif. Mereka berpandangan bahwa struktur sastra di seluruh dunia mirip. Dengan kata lain, sastra di seluruh dunia pun memiliki kemiripan. Hal ini secara tidak langsung akan menghapus sekat-sekat sastra apalagi kalau gagasan antropolog diterer Levi Strauss yang berkenalan dengan bahasawan De Saussure. Katanya, yang terungkap oleh manusia itu sebenarnya berasal dari struktur dalam yang sama. Jadi, sastra yang ada didunia ini kemungkinan berasal dari pijaran makna yang sama, oleh karena itu Universalisasi sastra memang bukan suatu kebohongan. Dalam pandangan strukturalis seluruh yang terungkap dijagad raya lewat sastra sebenarnya berasal dari satu sumber yang mirip pada setiap bangsa. Maka bukan suatu hal yang ganjil apabila tema penganiayaan dalam sastra ada di seluruh dunia. Begitu pula gerakan gender akan mewarnai seluruh penjuru dan kutub sastra didunia.
            Dalam kaitannya dengan ikhwal Universalitas sastra, pendapat Kasim ( 1996 : 7 - 10 ) patut dipertimbangkan dia mengutip runutan historis dan dasar-dasar sastra berdasarkan kesejarahannya. Menurut dia, disamping Goethe, nama lain yang patut dicatat adalah Fransisco De Sanctis yang memiliki pandangan luas tentang sastra sebagai mana Goethe, Sanctis juga tidak menghendaki pengkotak-kotakan kesastraan dalam sastra nasional.
“ Kesusastraan merupakan totalitas, suatu kesatuan. Sekitarnya karena alasan-alasan yang praktis bidang itu terpaksa dipisahkan dalam beberapa daerah, pembagian itu haruslah dibuat, berdasarkan criteria yang tidak dibuat-buat, seperti batasan-batasan bahasa dan politik. Karya-karya sastra haruslah dipelajari bersama-sama apapun asal-usul kebangsaannya, asal saja mereka memiliki kecenderungan dan kurun waktu yang sama, atau asal sastra mereka menggambarkan tema dan motif yang sama “ ( Jost, 1974 : 12 )
            Pendapat demikian memang sedikit bersebrangan dengan paham keunikan sastra di suatu bangsa. Sastra suatu wilayah, bagaimana pun, tetap berbeda dengan wilayah yang lain meski memiliki kemiripan tema. Jadi, Universalitas sastra ini condong berada pada paham pemikiran. Pada ranah pemikiran, sastra itu berasal dari embrio yang sama sesuai dengan tuntutan psikologi manusia. Itulah sebabnya pendapat yang memandang bahwa kesusastraan merupakan suatu totalitas, suatu kesatuan, dan bersifat universal, ada benarnya karena pada hakikatnya kehidupan manusia memiliki beberapa aspek yang bersamaan. Kenyataan ini, terutama dilihat dari kaca mata dunia barat, dapat di buktikan dari banyaknya unsur latar budaya yang tidak jauh berbeda satu sama lain diberbagai ngara di Eropa.
            Oleh karena itu pula kesusastraan, yang dipandang sebagai karya budaya umat manusia, tentu memiliki banyak persamaan. Suatu contoh yang boleh dilihat adalah mengenai motif berulang tentang “ Dosa Sumbang “ dan aliran ( movement ) dalam dunia sastra yang merupakan fonemena internasional, meskipun harus diakaui bahwa dalam aliran sering didapati adanya penyimpangan-penyimpangan dalam satu sastra nasional. Upaya menyamakan sastra pada tataran pemikiran dilandasi adanya permainan logika kebutuhan manusia secara esensial berbagai keinginan manusia didunia tentang seks, misalnya, ridak jauh berbeda satu sama lain. Oleh karena itu kalau ada karya sastra yang berkisah tentang seks disuatu wilayah, misalnya pengakuan pariem karya Linus Suryadi AG mungkin juga akan muncul cerita yang senada di Eropa. Novel Ronggeng Dukuh Paruk  karya Ahmad Tohari, kemungkinan besar juga mengandung kesamaan ide di Amerika
            Kemiripan sastra secara Universal bukan hal kebetulan, melainkan dilandasi oleh kebutuhan dasar manusia. Kebetuhan dasar seperti cinta, aman, makan, berkuasa, sandang dan pangan sering menjadi motor penggerak penulisan karya sastra. Konteks ini dengan sendirinya telah memoles suasana sastra dimana pun berada. Dari pandangan ini akan muncul sastra dunia yang berbau universal. Tema dalam Mahabarata yang berasal dari india juga terdapat di belahan dunia lain. Hal ini menandai bahwa perebutan kekuasaan ( artha sastra ) dimana dan kapan pun akan selalu ada.
            Rasanya, Universalisasi sastra merupakan sebuah idelaisme yang amat sulit tercapai. Kalau sastra bandingan harus merambah sampai 5 benua sekaligus, mendunia secara mulus, tentu merupakan pekerjaan yang amat berat meskipun hal itu telah didambakan oleh Goethe, tetapi realisasinya sering menemui kendala. Banyak benturan dalam realitas sastra bandingan, sebab ada keterbatasan bahasa, kode budaya, konfensi dan sebagainya, selain pengarang sering menampilkan keunikan tertentu atas dasar lokalitas yang mungkin sulit di universalkan.
            Gagasan Universalisasi sastra dianggap terlalu lemah ketika suatu bangsa mengadepankan  identitas masing-masing. Ketika Malaysia mengklaim lagu terang bulan, misalnya Indonesia merasa tidak nyaman. Hal ini terjadi karena rasa kebangsaan dan kebanggan setiap orang terhadapa tanah airnya sulit dilepaskan. Meskipun telah keliling dunia layaknya seorang Columbus seorang pengarang tentu memiliki identitas local yang menjadi “ bawaan dasar “ yang sulit dihilangkan. Apabila nuansa local itu harus dianggap sebagai universalitas, tetntu banyak orang yang kurang setuju.
            Sastra bandingan tidak dalam rangka mendorong kearah Universalisasi sastra. Tiap karya sastra memiliki kelebihan dalam tingkat lokal tertentu. Biarpun karya sastra ditulis dalam bahasa inggris, belum tentu mewakili universalitas. Universalisasi bukan terkendala pada masalah bahasa, melainkan juga unsure sastra yang lain. Penulis setuju apabila sastra bandingan memiliki idelaisme tinggi, tetapi tidak sedang mencari Universalisasi.
            Sastra bandingan, menurut Hossilos ( Shoimi, 2001 : 9-10 ), memuat bertmacam hal. Sastra bandingan adalah “ … the study of literature in all its aspect and relations in spatial – temporal context and perspectives “ . penulis menyetujui pendapat ini namun tidak berarti bahwa sastra bandingan hendak menemukan Universaslitas sastra. Tujun sastra bandingan mengungkap berbagai hal tentang sastra dalam konteks dan persrpektif berbeda cenderung untuk menemukan variasi keilmuan. Itiulah sebabnya Universalisasi sastra dirasa tidak perlu, sekalipun sastra bandingan dapat menemukan berbagai unsur penting dalam sastra tertentu.

Daftar Pustaka :

-       Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: bukupop
- /MASALAH DALAM PRAKTIK STUDI SASTRA BANDINGAN » MAHAYANA-MAHADEWA.COM.htm

Minggu, 16 September 2012

Unconscious dalam Novel ‘Telegram’ dan ‘Lho’ Karya Putu Wijaya


Sinopsis Novel ‘Telegram’ dan ‘Lho’
Novel Putu Wijaya yang berjudul Telegram (1972) bercerita tentang tokoh utamanya yaitu ‘Aku’, yang memiliki pacar khayalan yang bernama Rosa. Setiap ‘Aku’ mengalami atau menghadapi masalah baik itu menyangkut pekerjaannya, masalahnya dengan Nurma, seorang PSK langganan ‘Aku’ ataupun masalah yang menyangkut anak angkatnya Shinta, tokoh ‘Aku’ ini akan selalu mencari objek ‘pelepasan’ ketegangan melalui Rosa, pacar khayalannya. Yang kemudian lama kelamaan, tokoh khayalan ‘Aku’ ini menjadi hidup dan memiliki kesadaran seperti manusia yang ‘nyata’. Ketika tokoh khayalan ‘Aku’ ini menjadi hidup, akhirnya ‘Aku’ memutuskan untuk menghilangkan Rosa, khayalannya dan diakhir cerita ‘Aku’ memutuskan untuk pulang ke Bali bersama Shinta karena mendapatkan Telegram dari Bali yang mengabarkan kematian ibu ‘Aku’. (1)
Sedangkan, dalam novel LHO (1982), ceritanya berawal pada sore hari aku dan Zen berjalan-jalan. Zen terus berbicara, ingin rasanya tokoh aku membunuh Zen agar tidak dapat berbicara lagi dan rasa itu ia wujudkan, tetapi ketika ia mendorong tubuh Zen, ia kalah kuat untuk menjatuhkan Zen ke aspal. Akhirnya ia sendiri yang terjatuh dan pingsan. Zen merasa bersalah, ketika di rumah sakit, tak henti-hentinya Zen minta maaf. Pikiran tokoh aku, mungkinkah sebenarnya Zen juga berniat membunuhnya? Tetapi Zen menyangkal, lalu Zen berganti menuduh aku, awalnya aku menyangkal, namun akhirnya ia mengaku.
Persahabatan mereka tetap berjalan. Suatu hari Zen berkata pada aku bahwa sebenarnya tokoh aku telah mengalami proses menuju kegilaan, ia menunjukkan hasil observasinya. Lalu suatu ketika Zen menyuruh tokoh aku mengulangi perbuatannya dahulu demiobservasinya. Hari itu aku mengulangi kejadian untuk membunuh Zen. Kejadian itu terulang kembali dan akhirnya Zen mati tertabrak mobil dan tokoh aku pingsan. Ketika terbangun ia telah berada di rumah sakit. Semua menganggap tokoh aku depresi karena kehilangan sahabatnya. Anak muda pengendara mobil yang menabrak Zen ditangkap dan diadili. Tokoh aku mersa bersalah tetapi ia tidak mampu mengatakan kebenaran, keadaan yang membuatnya bungkam.
Akhirnya suatu hari tokoh aku melarikan diri dari rumah sakit dan merantau jauh. Aku bekerja pada pengusaha pemilik truk, ia adalah seorang janda. Aku juga mengenal sahabat baru seperti Zen, namanya Bing. Namun pada suatu hari Bing melakukan hal yang sama dengan Zen, ia tak ada henti-hentinya bicara, tokoh aku ingin membunuhnya dengan cara yang sama dengan Zen, tetapi meleset tokoh aku yang celaka. Di rumah sakit semua orang bertanya-tanya. Tokoh aku meminta maaf atas perbuatannya, namun semua mengira kalau tokoh aku ingin bunuh diri. Aku merasa ternyata semua orang beranggapan sama. Lalu aku memutuskan kembali ke kotanya untuk jujur kepada semua orang. Ketika di kotanya yang dulu ia bekerja di suatu perusahaan, namun pada suatu hari karena ia lalai, ia terancam dipecat dari pekerjaannya, bahkan akan ditembak oleh majikannya. Ketika kejadian itu tokoh aku pingsan dan setelah terbangun ia sudah berada di rumah sakit jiwa. (2)
Unconscious dalam Novel ‘Telegram’ dan ‘Lho’
Konsep mengenai unconscious pertama kali diperkenalkan oleh Sigmun Freud dalam teorinya Psikoanalisis pada tahun 1900-an. Teori psikoanalisis berhubungan dengan fungsi dan perkembangan mental manusia. (Minderop, 2010:10) Psikoanalisis, mendasarkan pemikirannya pada proses bawah sadar (unconscious mind) yang membetuk perilaku dan segala penyimpangan perilaku sebagai akibat proses tak sadar. Psikoanalisis tidak bertujuan atau mencari apapun kecuali penemuan tentang alam bawah sadar dalam kehidupan mental. (Freud, 2002:424)
Freud menyatakan bahwa pikiran manusia lebih dipengaruhi oleh alam bawah sadar (unconscious mind) ketimbang alam sadar (conscious mind). Ia melukiskan bahwa pikiran manusia seperti gunung es yang justru sebagian terbesarnya ada di bawah permukaan laut yang tidak dapat ditangkap dengan indera. Ia mengatakan kehidupan seseorang dipenuhi oleh berbagai tekanan dan konflik; untuk meredakan tekanan dan konflik tersebut manusia rapat menyimpannya di alam bawah sadar.  Freud merasa yakin bahwa perilaku seseorang kerap dipengaruhi oleh alam bawah sadar yang mencoba memunculkan diri, dan tingkah laku itu tampil tanpa disadari. (Minderop, 2010: 13)
Menurut Freud, hasrat tak sadar selalu aktif, dan selalu siap muncul. Kelihatannya hanya hasrat sadar yang muncul, tetapi melalui suatu analisis ternyata ditemukan hubungan antara hasrat sadar dengan unsur kuat yang datang dari hasrat taksadar. Hasrat yang timbul dari alam taksadar yang direpresi selalu aktif dan tidak pernah mati. (Minderop, 2010: 15)
Freud menghubungkan kondisi bawah sadar dengan gejala-gejala neurosis. Aktivitas bawah sadar tertentu dari suatu gejala neurosis memiliki makna yang sebenarnya terdapat dalam pikiran. Namun, gejala neurosis tersebut akan diketahui setelah gejala tersebut muncul ke alam sadar yang sesungguhnya merupakan gambaran gejala neurosis yang diderita seseorang di alam bawah sadarnya. (Freud, 2002: 297)
Dalam novel ‘telegram’ karya putu wijaya tindakan-tindakan tokoh utamanya yaitu ‘Aku’ selalu dipengaruhi oleh tekanan atau konflik yang berada di alam bawah sadarnya (unconscious mind) yang berusaha mencari pelepasan ketegangan. Tindakan-tindakan pelepasan ketegangan tersebut akhirnya berwujud sebagai Rosa, yang merupakan pacar khayalan ciptaan ‘Aku’. Setiap ‘Aku’ mengalami masalah ataupun konflik yang muncul dalam kesehariannya, ‘Aku’ akan selalu ‘berkhayal’ bertemu dengan Rosa. Namun, kebiasaan ‘Aku’ yang selalu mencari objek pelepasan ketegangan dengan menghayalkan Rosa, menjadikan ‘Aku’ terkadang tak dapat lagi membedakan kapan ia berkhayal dan kapan ia dalam keadaan nyata (tidak berkhayal) dan pada puncaknya, khayaln ‘Aku’ mengenai Rosa tidak dapat lagi dikontrol. Tokoh khayalan ini tidak dapat dikontrol lagi oleh ‘Aku’. Rosa menjadi hidup, ia tidak lagi berupa tokoh khayalan ‘Aku’, namun ia menjadi sosok yang mempunyai kesadaran sendiri. Akhirnya, ‘Aku’ menghentikan khayalannya tentang Rosa karena ia menganggap khayalannya ini berbahaya yang jika diteruskan memungkinkan ‘Aku’ menjadi gila.
Tokoh Rosa dalam novel ini, awalnya menjadi objek pelepasan ketegangan yang terepresi dalam alam bawah sadar ‘Aku’, namun pada saat menjelang akhir cerita tokoh Rosa ini tidak dapat lagi dikontrol, ini menandakan bahwa konflik yang berada dalam alam bawah sadar ‘Aku’ sudah begitu menekan kesadaran ‘Aku’ sehingga ‘Aku’ bahkan tak dapat mengontrol kesadarannya sendiri.
Sedangkan dalam novel ‘Lho’, tokoh utamanya yaitu ‘Aku’ yang tiba-tiba ingin mendorong sahabatnya Zen hanya karena Zen terlalu banyak berbicara merupakan wujud dari tekanan dari unconscious atau alam bawah sadarnya yang sudah tidak tahan lagi terhadap permasalahan tambahan yang bawa Zen untuk diperbincangkan dengan tokoh ‘Aku’. Tambahan konflik yang harus dihadapi oleh tokoh ‘Aku’ menjadikan ‘Aku’ tak dapat lagi menahan represi dari alam bawah sadarnya, sehingga represi yang tak dapat ditahan tersebut akhirnya keluar dalam bentuk tindakan ingin membunuh Zen dengan cara mendorongnya.
Tindakan yang kurang masuk akal pada awal cerita dalam novel ini yang didasari oleh ledakan akibat represi di alam bawah sadar yang berusaha mencari pelepasan, membawa cerita selanjutnya dalam novel ini berkisah tentang bagaimana konflik batin yang dialami oleh tokoh ‘Aku’. Konflik batin tersebut timbul dari rasa bersalahnya terhadap Zen yang meningga yang menganggap bahwa ‘Aku’-lah yang menyebabkan kematiannya. Koflik batin yang dialami oleh ‘Aku’ akhirnya tak dapat ditahan lagi oleh ‘Aku’, sehingga ‘Aku’ kembali ke rumahnya yang dulu dan membuat pengakuan bahwa dialah yang dengan sengaja membunuh Zen. Namun, orang-orang menganggapnya gila karena pengakuannya itu dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa.
Kedua novel ini, yaitu ‘Telegram’ dan ‘Lho’ merupakan novel-novel psikologis karya Putu Wijaya. Putu Wijaya ingin menggambarkan bagaimana kehidupan saat ini yang penuh dengan tekanan dalam keseharian yang muncul sebagai masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia masa kini. Namun, yang membedakan kedua novel ini yaitu tekanan yang terdapat dalam alam bawah sadar (unconscious) tokoh utamanya yaitu ‘Aku’ bentuk pelepasan ketegangannya berbeda. Dalam novel ‘Telegram’ bentuk pelepasan tekanan dalam unconscious-nya berwujud Rosa, sedangkan dalam novel ‘Lho’ bentuk pelepasan tekanan dalam unconscious-nya berwujud keinginan ‘Aku’ untuk membunuh Zen. Dari kedua novel ini, pengarangnya ingin mengakatakan bagaimana orang yang biasa-biasa saja bisa melakukan tindakan-tindakan ‘luar biasa’ akibat represi konflik dalam alam bawah sadarnya (unconscious).

Daftar Pustaka :

Wijaya, Putu. Telegram. Cetakan Kedua. 1977. Pustaka Jaya.

Wijaya, Putu. LHO.2000. Jakarta : Balai Pustaka.

Freud, Sigmund. General Introduction to Psychoanalysis: Psikoanalisis Sigmund Freud. diterjemahkan oleh Ira Puspitorini. 2002. Yogyakarta: Ikon Teralitera.
 
Minderop, Dr.Albertine,M.A. Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Edisi Pertama. 2010. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
 

Pelita dalam Kegelapan Malam © 2008. Design By: SkinCorner